Camat Banyuasin III, Santo. S. Sos. M. Si, Sambut Bupati Banyuasin dan Katim Sosialisasi Karhutlah Mabesad TNI, Brigjend TNI AD F. S, Ginting di Kantor Camat Banyuasin III

BANYUASIN, INFOMUSI.COM — Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutlah) memasuki periode rawan. Pemerintah Kabupaten Banyuasin bersama jajaran pemerintah desa dan kelurahan diminta memperkuat langkah pencegahan sejak dini.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan sosialisasi Karhutlah yang menghadirkan Ketua Tim (Katim) Sosialisasi Karhutlah Mabesad TNI AD, Brigjen F. S. Ginting, di Ruang Rapat Camat Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin.

Kehadiran Brigjen F. S. Ginting didampingi Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani, S.H., M.H., serta Kasdim Kolonel Laut Dadan dan Kolonel Laut Agus Wahyu. Mereka disambut Camat Banyuasin III Santo, S.Sos., M.Si., bersama para kepala desa dan lima lurah di wilayah Kecamatan Banyuasin III.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani, S.H., M.H., mengatakan wilayah Banyuasin III saat ini tidak lagi didominasi hutan liar. Sebagian besar lahan telah dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai aktivitas pertanian dan perkebunan.

“Di Banyuasin III ini memang tidak ada lagi hutan liar. Hutan di Banyuasin ini sudah banyak ditanami oleh masyarakat, seperti karet, sawit dan sawah,” ujar Askolani.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas rencana pembangunan cetak sawah seluas 1.000 hektare di Kecamatan Banyuasin III.

“Kami bersyukur di Kecamatan Banyuasin III 1.000 hektare akan dibangun cetak sawah. Kami berterima kasih kepada Presiden, usulan kami dikabulkan. Semoga berkah bagi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi pengangguran,” katanya.

Menurut Askolani, pencegahan Karhutlah tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Dibutuhkan kekompakan seluruh unsur pemerintahan hingga tingkat desa dan kelurahan.

Ia meminta para kepala desa dan lurah terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

“Kades harus terus mengingatkan masyarakat untuk tidak membakar lahan, langsung atau tidak langsung. Dengan kehadiran Jenderal di Kabupaten Banyuasin ini tentunya dapat menumbuhkan semangat bagi masyarakat dalam menanggulangi Karhutlah,” tegasnya.

Sementara itu, Askolani menekankan pentingnya penanganan kebakaran dilakukan secara tuntas. Pasalnya, kondisi cuaca panas masih berlangsung dan telah memasuki bulan ketiga.

“Saat memadamkan api harus tuntas, sebab suhu panas sudah masuk di bulan ketiga,” pesan Askolani.

Askolani juga mengingatkan bahwa penanganan Karhutlah tidak hanya dilakukan melalui upaya teknis pemadaman. Menurutnya, manusia juga harus melakukan introspeksi diri dan memohon ampun kepada Allah SWT.

“Tadi kami sudah melaksanakan sholat istisqa sesuai syariat yang diajarkan oleh Rasulullah. Selain upaya pemadaman, kita juga harus menyerahkan diri kepada Sang Pencipta. Terhambatnya hujan akibat dosa-dosa kita. Dari istisqa kita harus introspeksi diri dan memohon ampun kepada Allah SWT,” ujarnya.

Askolani kembali menyampaikan terima kasih kepada Brigjen F. S. Ginting dan rombongan atas kedatangan mereka ke Banyuasin.

“Kehadiran Jenderal menjadi pemicu semangat kami. Kepada para kades dan lurah, apa yang disampaikan oleh Jenderal harus dicatat dan diingat, kemudian dilaksanakan,” tegasnya.

Sementara itu, Katim Sosialisasi Karhutlah Mabesad TNI AD, Brigjen F. S. Ginting, mengatakan kedatangan timnya ke sejumlah daerah merupakan bagian dari perintah Presiden Republik Indonesia untuk membantu pemerintah daerah dalam menanggulangi Karhutlah.

“Kami tersebar di berbagai wilayah. Untuk di Sumatera, ada di Sumsel, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Pekanbaru hingga Aceh. Inti kehadiran kami mensosialisasikan dan mengimbau kepada masyarakat agar memiliki kesadaran tinggi untuk tidak membakar lahan dan hutan,” kata Ginting.

Ia berharap sosialisasi dan pencegahan yang dilakukan sejak sekarang dapat menekan bahkan menghilangkan kejadian Karhutlah pada tahun-tahun mendatang.

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi dapat menimbulkan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan hingga sektor ekonomi dan lapangan pekerjaan.

“Harapannya, tahun selanjutnya Karhutlah tidak terjadi lagi. Sebab kebakaran sangat membahayakan, seperti kesehatan, ekonomi dan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Ginting menegaskan, upaya pencegahan harus dimulai sebelum api muncul. Sebab ketika kebakaran telah meluas, proses pemadaman jauh lebih sulit.

“Mulai hari ini kita mulai mencegah, sebab memadamkan itu sulit,” pungkasnya.

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *