Gatot setioko Kabid Pencegahan Bencana BPBD Kabupaten Banyuasin

BANYUASIN, INFOMUSI.COM,- Malam demi malam, layar ponsel di tangan Gatot Setioko tak pernah benar-benar padam.

Video pembelajaran di YouTube terus diputar, halaman demi halaman buku dibuka, sementara catatan kecil penuh rumus dan pola soal mulai memenuhi meja belajarnya.

Di usianya yang tak lagi muda, Gatot kembali duduk sebagai seorang “pelajar”.

Tes CACT ASN yang dihadapinya bukan perkara mudah. Dibutuhkan konsentrasi, logika, dan kemampuan memahami pola soal dalam waktu singkat. Karena itu, ia mempersiapkan diri dengan serius jauh sebelum hari ujian tiba.

Namun, perjuangan Gatot ternyata bukan sekadar cerita tentang seseorang yang belajar menghadapi tes ASN. Ada kisah yang jauh lebih menyentuh di balik keberhasilannya meraih nilai optimal.

Di rumah sederhana yang penuh kehangatan itu, terjadi sebuah pemandangan yang mungkin jarang ditemui banyak orang tua.

Jika dulu Gatot yang membangunkan anak-anaknya untuk belajar, memeriksa tugas sekolah, hingga memberi nasihat tentang masa depan, kini keadaan berubah. Sang ayah justru duduk mendengarkan arahan dari anak-anaknya sendiri.

“Kalau dulu saya yang membimbing anak-anak, sekarang anak saya yang membimbing dan mengarahkan saya menghadapi soal-soal CACT,” ujar Gatot lirih.

Kalimat itu sederhana. Tetapi di baliknya, tersimpan perjalanan panjang seorang ayah dalam membesarkan keluarga.

Kedua anak Gatot diketahui merupakan lulusan di bidang pendidikan yang berkaitan dengan materi tes yang dihadapinya. Mereka tidak sekadar memberi semangat, tetapi benar-benar mengambil peran sebagai mentor bagi ayah mereka sendiri.

Mereka membantu menjelaskan pola soal, melatih cara berpikir cepat, hingga mengoreksi jawaban-jawaban latihan yang dikerjakan Gatot.

Di ruang belajar kecil itu, hubungan ayah dan anak berubah menjadi hubungan guru dan murid.

Tak ada gengsi. Tak ada jarak.

Yang ada hanyalah kebanggaan yang tumbuh diam-diam di hati seorang ayah.

Bagi Gatot, momen tersebut jauh lebih besar dibanding sekadar hasil tes yang berhasil diraih. Sebab di saat itulah ia merasa perjuangannya selama ini sebagai orang tua tidak sia-sia.

“Sukses saya rasanya luar biasa. Sukses mendidik anak, sukses membina anak, dan sukses lagi ketika anak sendiri menjadi mentor,” katanya.

Matanya tampak berbinar ketika mengucapkan kalimat itu.

Ada rasa haru yang sulit disembunyikan. Sebab tidak semua orang tua bisa merasakan momen ketika anak-anak yang dulu digandeng menuju sekolah kini justru menggandeng orang tuanya melewati tantangan hidup.

Bagi Gatot, keluarga adalah sumber kekuatan terbesar. Kesuksesan tidak pernah berdiri sendiri. Ada doa yang dipanjatkan diam-diam, ada tenaga yang diberikan tanpa pamrih, dan ada pemikiran yang dibagikan dengan tulus di dalam sebuah keluarga.

Ia percaya, sehebat apa pun seseorang, keberhasilan tetap berakar dari rumah tempat ia pulang.

Dan di rumah itulah, Gatot menemukan kekuatan terbesarnya: keluarga yang tumbuh bersama, saling menopang, dan saling menguatkan.

Sebuah kisah sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam tentang cinta, perjuangan, dan kebanggaan seorang ayah.

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *