BANYUASIN, INFOMUSI.COM,- Sejumlah warga di Desa Buana Murti, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, tidak bisa beraktivitas seperti biasanya sejak pertengahan Desember 2024 silam. Hal tersebut disebabkan Banjir yang melanda Desa mereka, Banjir tersebut diduga disebabkan karena adanya tanggul di Sungai Kating, yang diduga dibuat oleh salah satu perusahaan. Kondisi Air merendam Jalan Poros Desa Buana Murti setelah turun hujan Slamet, Kepala Desa Buana Murti mengatakan pihaknya sudah melakukan upaya atas banjir tersebut, dengan membuat proposal ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuasin dan melaporkan ke pihak Kecamatan melalui Grup WhatsApp yang didalamnya juga ada pihak Puskesmas. “Beginilah kondisi kami hampir 5 bulan ini, baru ditahun 2025 ini Banjir besar melanda kami, banyak rumah kosong ditinggalkan oleh warga mengungsi ke rumah keluarga mereka yang berada di daratan,”Kata. Kepala Desa Buana Murti, Slamet ketika dibincangi. Jum’at, 25/25. Ditambahkannya, sebagai Kepala Desa pihaknya sudah melakukan upaya dengan membuat surat ke BPBD Kabupaten Banyuasin bersama tiga Kepala Desa lainya seperti Desa Tirta Mulya, Senada Mukti dan Banjar sari. Proposal laporan dan Pengajuan Empat Desa ke BPBD Kabupaten Banyuasin terkait Banjir yang melanda mereka “Kami sudah membuat laporan ke BPBD Kabupaten Banyuasin untuk mendapat perhatian dan bantuan meskipun berupa bantuan tanggap darurat, namun sudah 5 bulan ini realisasi dari laporan kami belum ada , belum tahu pasti apa sebabnya. Memang sebelumnya ada petugas dari BPBD datang mengecek kondisi Banjir ini, namun setelah itu tidak ada lagi kabarnya”Ujarnya. Ditegaskannya, Banjir ini diduga disebabkan oleh tanggul yang jebol akibat ada aliran sungai yang buatkan kerucut sehingga air tidak mengalir seperti 17 tahun silam dimana air dari Desa Sungai Rengit, Bom Berlian mengalir. “Sungai alam yang dahulunya ada kini sudah rusak, sehingga air dari Sungai Rengit, Bom Berlian tidak lagi mengalir ke muaranya, justru kini warga yang menjadi korbannya, dari itu kami berharap ada solusi dari Pemerintah maupun perusahaan untuk nasib kami ini, “Tegasnya. Masih dikatakannya, dampak dari Banjir ini banyak sekali seperti akses perekonomian masyarakat terganggu, warga yang memanen buah sawit tidak bisa, kesehatan warga karena air yang menggenangi pekarangan warga bisa melahirkan jentik-jentik nyamuk, kemudian penyakit kulit dan diare bagi anak-anak. “Kami berharap, Pemerintah Kabupaten Banyuasin segera respon terhadap keadaan kami, sebab saat ini kami tidak bisa melakukan apa-apa, kami terisolir. Hendaklah kiranya kami mendapat bantuan, perhatian dan kepedulian, senang lagi kalau pejabat tinggi di Kabupaten Banyuasin mengunjungi kami. “Tukasnya. Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Banyuasin, Reza August ketika dihubungi terkait keluhan masyarakat Desa Buana Murti ini mengatakan berdasarkan proposal dan tinjauan langsung ke lapangan, BPBD telah tindaklanjuti dengan membuat laporan kepada Pimpinan beberapa bulan yang lalu. “Kami diperintahkan untuk berkoordinasi dengan Dinas terkait, seperti Dinas PUPR, Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Holtukultura serta Dinas Perkebunan & Perternakan terkait permasalahan tersebut. Kami dari BPBD juga telah berusaha mengajukan proposal mengusulkan normalisasi sungai ke BNPB Pusat, namun sampai saat ini belum ada kejelasan.”Singkat. Kepala BPBD Kabupaten Banyuasin. Terpisah, Humas PT. SAL , Rindar Mandela. SH. MH, mengatakan bahwa terkait Banjir pihaknya mengaku hal tersebut terjadi akibat dari faktor alam sehingga debit air tinggi yang menyebabkan banjir dimana-mana. “Terima kasih informasinya, terkait Banjir di Desa Buana Murti bahwa lokasi di perusahaannya juga mengalami Banjir, dan Banjir tersebut akibat dari faktor alam dimana intensitas hujan tinggi, “Singkatnya. Penulis:Weni Marlin Editor: Supriyanto Share this… Facebook Copy Pinterest Twitter Whatsapp Linkedin Share Tweet Share Navigasi pos Setelah Disidak, Pekerja Trotoar Kembali Datang, Namun Diduga Tanpa Pengawasan Diduga Penyedotan Pasir Ilegal Di Desa Rantau Bayur Rugikan Masyarakat, Iwan. SH. Rantau Bayur Bukan Milik Kelompok Atau Perorangan