Ust. Taharudin syakhyan Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Banyuasin

BANYUASIN, INFOMUSI.COM,- Di bulan Ramadhan, masjid-masjid menjadi lebih hidup. Saf memanjang, suara imam merdu, ayat-ayat dibaca satu juz dalam satu malam.

Ada semangat yang terasa indah: keinginan mengejar keutamaan. Kita ingin cepat sampai pada pahala yang besar, pada gelar khatam, pada rasa puas telah melakukan sesuatu yang istimewa.

Namun di tengah ambisi yang besar itu, ada sunnah kecil yang pelan-pelan menghilang: doa iftitah.

Habib Abdullah al-Mahdhar seperti sedang mengingatkan kita pada satu penyakit yang sangat halus—penyakit yang tidak terasa sebagai kesalahan karena dibungkus dengan niat baik. Kita mempercepat salat agar ringan bagi jamaah, kita memadatkan gerakan agar efisien, kita fokus pada target bacaan agar terasa istimewa. Semua terdengar logis. Semua tampak seperti bentuk kasih sayang.

Tetapi justru di situlah tipu daya itu bekerja.

Kita sanggup berdiri lama untuk membaca satu juz, tetapi merasa berat meluangkan beberapa detik untuk doa iftitah. Kita mengejar sesuatu yang besar, namun meremehkan yang menjadi bagian dari tuntunan Nabi. Seolah-olah yang panjang itu lebih utama daripada yang sesuai.

Padahal dalam dunia pesantren, kita diajari bahwa barakah bukan pada panjangnya, tetapi pada ittiba’-nya.

Doa iftitah bukan soal tambahan bacaan. Ia adalah pembuka. Ia seperti adab mengetuk pintu sebelum masuk. Ia mengajari kita bahwa ibadah tidak hanya tentang substansi, tetapi juga tentang cara. Bahwa mendekat kepada Allah bukan sekadar banyaknya ayat yang dibaca, tetapi sejauh mana langkah kita mengikuti jejak Rasulullah.

Ada ironi yang pelan-pelan harus kita akui: kita hidup di zaman yang sangat bersemangat dalam hal-hal yang tampak besar, tetapi mulai lelah menjaga yang kecil namun mendasar.

Kita ingin khatam cepat. Kita ingin tarawih tidak terlalu lama. Kita ingin semua terasa ringan. Dan tanpa sadar, kita sedang memindahkan pusat ibadah dari “mengikuti Nabi” menjadi “menyesuaikan dengan selera manusia”.

Habib Abdullah al-Mahdhar tidak sekadar membahas hukum doa iftitah. Beliau sedang membicarakan arah hati. Apakah ibadah kita masih dibangun di atas cinta kepada sunnah, atau sudah bergeser menjadi proyek pencapaian spiritual yang diukur dengan jumlah dan durasi?

Di pesantren, para masyayikh mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi dalam: menjaga yang kecil adalah tanda cinta yang besar. Santri dilatih membaca wirid yang mungkin pendek, tetapi dijaga terus-menerus. Dilatih melakukan hal-hal yang tampak sepele, tetapi tidak ditinggalkan.

Karena dari situlah lahir keistiqamahan.

Tarawih yang membaca satu juz itu indah. Tetapi lebih indah lagi jika setiap bagiannya tetap berada dalam jejak Nabi. Sebab yang kita cari bukan sekadar banyaknya bacaan, tetapi pengakuan bahwa kita ini pengikut Dan pengikut yang sejati tidak memilih-milih sunnah mana yang ia jalankan.

Barangkali inilah yang perlu kita renungkan: jangan sampai kita berdiri lama di hadapan Allah, tetapi melupakan cara berdiri yang diajarkan oleh Rasulullah. Sebab di hadapan cinta, yang kecil tidak pernah dianggap remeh.

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *